Kamis, 18 Februari 2016

Menjadi Orang Tua

Assalammu'alaykum wr wb

Udah lama banget ga menjamah blog ini sejak disibukkan dg kerjaan, pindah (oiya saya uda pindah kerja ke Medan sejak bulan September 2014), hamil dan akhirnya ngurusin si bayi cantik kesayangan Adzranisa Maryam Amaturachman

Foto Maryam Usia 6 Bulan

Seriously, jadi ibu itu sangaaat menyenangkan tp disisi lain cukup challenging secara secara sadar saya belom pernah belajar "How to be a parent?" emang sih ga ada orang tua yg bener2 hebat 100% dalam hal mengurus dan mendidik anak tapiii alangkah lebih baiknya kalo kita mau belajar dari yang sudah berpengalaman terutama praktisi ataupun psikolog yg sudah mempelajari berbagai macam hal pola asuh anak yg tepat di era saat ini dan satu hal yg paling penting yaitu soal Akhlak dan Iman. Akhlak dan Iman yg baik merupakan pondasi kuat dalam tumbuh kembang anak (menurut saya) karena dengan  kekuatan akhlak dan iman segala pengaruh buruk dalam tumbuh kembang anak bisa ditangkis tanpa sempat merusak jati diri anak itu sendiri.

Sedikit demi sedikit saya mau share ilmu yang saya dapat dari komunitas Ibu-Ibu Profesional Sumatera Utara dimana saya jg baru tergabung saat Maryam usia 5 bulan, banyak bahasan bermanfaat yg disampaikan baik dg kulwap (kuliah whatsapp), lewat wiziq ataupun kopdar... semoga bermanfaat buat yang baca blog saya ini ya

Oleh: Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga


Teman, dalam 'Parent Edition' saya ingin mengajak  untuk berdialog tentang hubungan orangtua dan anak-anak.
Anak yang jadi amanah terindah bagi para orangtua, karena walaupun telah tiada, pahala kita akan tetap mengalir dari do'a dan kesholihan anak-anak kita...
Anak yang juga amanah terberat bagi orangtua, karena ketika kaki kita sudah menapak di surga, dan ternyata anak kita ada di neraka, maka kita bisa terseret kesana...

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«

Selasa, 1 Desember 2015

Mendidik Anak
dalam Tiga Masa
(Bagian 1)

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

Taman yang paling indah..., hanya taman kami...
Taman yang paling indah.., hanya taman kami...
Tempat bermain berteman banyak, itulah taman kami, taman kanak-kanak...

Teman...
Sepenggal lagu yang sangat dihafal oleh semua guru TK, juga anak-anak TK; entahlah dengan  'mantan anak TK', apa masih ingat lagu ini...

Ya, inilah lagu untuk anak TK; kepanjangannya taman kanak-kanak.

Jadi agak aneh kalau ada frase 'sudah sekolah TK'. Lhaaa...,  sekolah kok di 'taman'?

Kritik sosial jeesss...!
Pesan moral...
Cie...cie.., masa' cuma stand up comedy aja yang ada 'beginian'-nya...

Oke, lanjut....!
Yang sebenarnya ingin saya sampaikan adalah bahwa masa kanak-kanak adalah masa bermain.

Ya, bermain adalah bagian penting dari proses mendidik anak usia dini; dibawah 7 tahun.

Mengapa?
Karena lewat proses menyenangkan dalam 'bermain' ternyata anak-anak efektif menerima 'hal baru' alias jadi 'mudah belajar'.
Bagaimana bisa begitu?
Intinya, ada 'proses otak' yang panjang ceritanya kalau diulas disini...
Kuliah neurologi nanti...
Beli buku saya saja...!!
hehhe..., promo nih...

Masalahnya adalah 'bermain' seperti apa yang menyumbangkan 'sesuatu' untuk proses belajar anak kita?
Main PS; game seperti mainan anak2 kita?

Hmmm, kayaknya enggak deeh!
Ada sedikit baiknya, tapi tidak saya lanjutkan. Silahkan mengingat tema tata aturan gadget.

Main yang 'berdampak' pada proses belajar adalah main seperti jaman kita dulu; main engklek, gobak sodor, bentengan, sampai nyebur kali...
Hihihi..., inilah 'jenis permainan fisik' yang sangat penting untuk stimulasi sensorik-motorik anak.

Main apa lagi ya?
Hmmm..., main bekel, kempyeng, main pasir, puzzle, lego sama balok untuk jaman kekinian.
Intinya, yang 'nyusun sesuatu' ini sangat bagus untuk logika anak kita.

Lalu main macam pasar-pasaran, bongkar pasang, polisi-polisian; yang intinya ada 'acting atau penyutradaraan', ini sangat bagus untuk kecerdasan sosial anak kita.

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

Masa 7 tahun ke bawah yang kadang disebut masa pendidikan usia dini adalah masa yang sangaaaat penting!

Mengapa?
Banyak hal yang terjadi ternyata menjadi pondasi tumbuh kembang anak.
Jika pondasi baik, maka tumbuh kembang brikutnya jadi baik.
Jika pondasi buruk, alamat tumbuh kembang selanjutnya juga bermasalah.

Maka apapun yang 'kita tanam' saat usia dini, itulah yang akan terbawa hingga dewasa.
Setiap 'perkataan penting' akan melekat pada anak. Berbagai 'kejadian penting' akan membekas pada anak  dan 'kebiasaan harian' anak di usia ini juga akan mendasari 'perilaku anak' di masa berikutnya...

Kalau anak dipukuli di masa ini, besarnya jadi pencemas.
Kalo anak dimanja di usia ini, besarnya akan jadi semaunya sendiri.
Kalau anak dikurung didalam rumah, maka akan minder ketika besar.

Jadi, kita memang harus memperhatikan dengan detil program pendidikan anak di usia ini. Bagaimana detilnya?
Baca buku bu Ani, 'Parenting Guide'...!!
Lhaaa..., promosi lagi...

Ini bukan soal promo...!,
ceritanya kemarin ada seorang ibu tanya tentang toilet training; memang ini episode penting di masa mendidik anak usia dini! Dahsyatnya toilet training untuk masa depan anak saja, dibahas satu bab khusus, hehe..,  bisa 3 hari edisi psycho coffee!
Toilet training memang ada hubungannya dengan manajemen waktu anak ketika besar, berhubungan pula dengan pengendalian emosi, juga yang lain-lain.

Semoga bersabar menunggu tiap episode...

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

Sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib ra. membagi proses mendidik anak menjadi 3 bagian.

Pertama, 7 tahun pertama anak diperlakukan sebagai raja.
Naah..., dilayaaaaaniii gitu ta?
Ya enggak, tapi 'dipenuhi kebutuhannya' dan 'disenangkan hari-harinya' sebagaimana penjelasan tentang masa bermain.


Rabu, 2 Desember 2015

Mendidik Anak
dalam Tiga Masa
(Bagian 2)

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

"Anak saya ini kok ya susah banget disuruh belajar ya...?. Sudah kelas 3 SD lho bu ani...!, nanti kalo ketinggalan pelajaran gimana?, padahal dia pinter. Kalau saya paksa sedikit gituuu, belajar sebentar ya 'nyantol', paham bener, tapi kalau disuruh belajar, susaaaah..., kayak cepet capek gitu lhooo!".

"Maaf bu, apakah ananda sudah makan sendiri?, tidak disuapi maksud saya".

"Oya bisa dong!"

"Setiap hari bu? Selalu makan sendiri ya? Maksud saya bukan hanya bisa, tapi apa sudah terbiasa?"

"Haaa..., ya itu, kalau gak disuapi, makannya luaamaaa.. nggak habis. Lagian kalau makan sendiri masih belepotan!".

"Coba dibiasakan makan tanpa disuapi setiap hari, SE-LA-LU!, semoga nanti kesadaran belajarnya tumbuh".

Si ibu bengong sebentar. Urusan makan saja sampai jadi saran untuk belajar. Apa hubungannya ya...?

Teman...
Masa 7 tahun ke atas, adalah masa kuat untuk "pembiasaan",  berbagai macam perilaku baik harus "dibiasakan".

Alasan pertama, adalah tentu saja karena semboyan' alah bisa karena biasa'.
Anak bisa mandiri kalau dia terbiasa makan sendiri, terbiasa mandi sendiri, terbiasa pakai baju sendiri, terbiasa menata bukunya sendiri, dan sejenisnya.

Anak akan bisa disiplin kalau dibiasakan bangun pagi, kalau dibiasakan datang sekolah tepat waktu, kalau dibiasakan pulang ke rumah tepat waktu, kalau dibiasakan berangkat tidur tepat waktu.

Alasan kedua adalah bahwa "Sesuatu yang istiqomah yang mendatangkan keberkahan".

Anak yang istiqomah mandiri, akan membuahkan karakter bertanggung jawab seperti cerita tadi. Anak yang bisa makan sendiri tapi masih disuapi pastinya 'dimanjakan', ibunya nggak tegaan!, makanya anaknya jadi 'agak tergantung', makanya jadi 'kurang daya juang', makanya jadi 'malas belajar'.

Tentu saja, masih banyak 'kebiasaan-kebiasaan lain' yang akan berbuah 'karakter lain'.
Terlalu panjang jika dibahas satu-satu..., lain kesempatan insyaAllah...

Karakter bisa dibangun dengan kebiasaan, maka pembiasaan adalah metode dahsyat untuk anak usia 7 tahun ke atas. Mari dicoba..!!

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

7 tahun kedua dinyatakan Ali bin Abi Thalib ra. sebagai masa mendidik anak sebagai 'tawanan'.

Hohoho...seramnya...!
Oohh.. tentu tidak!
Pada masa Rasulullah tawanan perang diperlakukan sangat manusiawi...

Maksud sebenarnya dari pengambilan istilah 'tawanan' sebenarnya lebih kepada penekanan pentingnya mengenalkan adab, aturan, dan juga etika pada anak di usia ini.

Yaaa..., pengelolaan aturan atau manajemen aturan akan sangat manjur diterapkan pada anak usia 7 tahun ke atas.

Apakah aturan itu?
Aturan itu secara sederhana adalah apa yang boleh dan tidak boleh, alasannya adalah karena ada yg baik dan tidak baik.

Anak-anak sedang dalam masa eksplorasi, dan agar proses tersebut tetap 'pada track-nya' dan juga anak-anak tidak berlebihan, aturan sangat dibutuhkan.

Boleh minum tapi sambil duduk, tidak boleh berdiri.

Boleh makan es krim, tapi harus dihabiskan, dan sampahnya tidak boleh dibuang sembarangan.

Boleh nonton tv, tapi ada jam-nya.

Boleh main keluar rumah, tapi ada waktunya.

Dan berbagai macam aturan lainnya. Ibarat mengajak anak berjalan diatas jembatan, maka aturan adalah pagar jembatan agar anak aman, tidak jatuh.

Lebih jauh ketika aturan dikenalkan, kemudian dibiasakan untuk menaatinya, maka anak-anak akan mudah beradaptasi dengan batasan 'halal dan haram' yang lebih luas, bahkan anak-anak kita akan bisa survive dengan norma-norma yang akan ditemuinya di dunia global.

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

Teman...
Tentu saja pembiasaan yang dilakukan harus penuh kasih sayang. Manajemen aturan juga harus dilakukan dengan penuh ketegasan tapi tetap bernuansa kelembutan. Dan agar nuansa ini tercapai, para orangtua perlu menguasai teknik komunikasinya. Teknik komunikasi tegas tapi tidak otoriter.
Teknik mengingatkan anak tapi tidak menyakitkan. Teknik memuji anak tapi tidak menjadikannya 'gila pujian'.
Perlu panjang kali lebar kali tinggi untuk pembahasan hal ini...
Kita sambung kali lain.


Kamis, 3 Desember 2015

Mendidik Anak
dalam Tiga Masa
(Bagian 3)

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

"Aku tidak mau ikut ke rumah nenek..., aku ada acara sama teman-temanku, besok itu weekend Ma, acaranya anak muda!", cetus Rio dengan nada tinggi pada ibunya.
Rio yang sudah SMP sedang punya hobi main skateboard, setiap weekend kongkownya di dekat monkasel, arena skateboard.

Pernah dengar ada anak-anak SMP yang mulai membangkang? Mulai tidak menurut apa kata orangtua.
Ini adalah bencana...!!
Karena anak yang bisa jadi sudah baligh ini telah menanggung dosa akibat kekasaran sikap pada ibunya.

Teman, pada usia 10 tahun ke atas, anak-anak perlu disiapkan mentalnya untuk menyambut baligh.
Usia 14 tahun keatas yang rata-rata anak sudah masuk baligh juga merupakan masa yang krusial.
Pada periode inilah manajemen aturan yang ketat di usia sebelumnya terkadang menjadi tidak efektif, bahkan semakin keras kita menangani anak, semakin membangkang mereka pada orangtua.
Salah satu pendekatan yang paling disarankan adalah DIALOG.

Ya, komunikasi dua arah akan menjadi jembatan penyelesai masalah-masalah antara orangtua dan anak.
Dialog alias berbicara dua arah akan membuat anak yang beranjak dewasa ini merasa dihargai, lalu pikiran & perasaan mereka terbuka, maka kemudian bisa diberi masukan, juga arahan, agar bisa lebih baik.

Jika masa pertama pentingnya bermain, dan masa kedua pentingnya pembiasaan. Maka, saya kira inilah prinsip utama memperlakukan anak di masa ketiga sebagai 'wazir'; yaitu dengan cara berdialog. Bukan hanya soal menyampaikan maksud & keinginan kita dalam bentuk komunikasi dua arah, bahkan bisa jadi dalam beberapa persoalan, kita bisa meminta pendapat dan pertimbangan anak. Karena mereka sudah memiliki kematangan kognitif untuk berpikir logis, jadi sangat mungkin untuk diajak bertukar pikiran.

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

Ada yang pernah tahu praktisi pendidikan & parenting, Bapak Budi Dharmawan?
Beliau ini punya 13 anak. Beliau bersama istrinya; sebelum meninggal, telah memiliki pola pengasuhan yang menurut saya luar biasa.
Saya berkesempatan bekerjasama dengan beliau beberapa tahun yang lalu saat istrinya masih ada.
Ada sebuah kisah unik dari keluarga mereka. Setiap anak pada usia tertentu diberi tanggung jawab untuk mengambil bagian 'mengurus rumah'. Ada anak yang bertugas menyalakan lampu, membayar rekening listrik, membersihkan rumah, menjadi sopir, dan macam-macam lainnya, sehingga walaupun sedemikian banyak anak, ayah dan ibu tidak kerepotan mengurus rumah.

Satu pelajaran yang saya ambil, khususnya untuk pendidikan masa yang ketiga ini yaitu pentingnya 'sinergi' antara orangtua dan anak. Sebagaimana fungsi seorang 'wazir', dia sudah punya peran & tanggung jawab untuk mengelola kerajaan. Jadi, anak-anak yang sudah baligh harus mendapatkan 'peran' sebagai media latihan tanggung jawab sebagai orang dewasa.

Jadi, mari kita berbagi peran dengan anak-anak kita..!!

πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«πŸ‘πŸ‘«☝πŸ‘«

For web version, please visit www.psychocoffeemorning.com





1 komentar: